Ratusan Mayat Covid Muncul di Sungai Gangga India

Jenazah covid banyak dikuburkan tidak layak di sepanjang Sungai gangga India (Ist)

indoposonline.id – Membludaknya gelombang baru covid di India semakin memperihatinkan. Terbaru ratusan ‘zombi’ jenazah COVID-19 bermunculan di sepanjang Sungai Gangga bersamaan dengan tibanya musim hujan.

Dikutip laman The Sun, jasad-jasad yang terbungkus kain safron itu terlihat bergelimpagan di sepanjang sungai kuno itu, menunjukkan bahwa krematorium dan rumah sakit di India masih belum mampu menampung para korban.

Banyak keluarga yang akhirnya mengubur jasad orang-orang terkasih mereka di sepanjang sungai dengan membuat kuburan dangkal karena harga kremasi melonjak.

Musim hujan yang menyebabkan banjir membuat aliran air yang deras di sepanjang sungai itu, hingga mengakibatkan ratusan jasad yang terkubur di sisi sungai terangkat ke permukaan.

Seperti diketahui, India tengah menghadapi wabah terburuk dari seluruh dunia. Bulan lalu, ratusan jenazah terekam dalam dokumentasi menumpuk di sisi aliran sungai di kota Chausa di utara negara bagian Bihar.

Petugas mengatakan bahwa jasad-jasad mengambang dan terbawa dari Uttar. Semua jasad itu adalah korban COVID-19 yang keluarganya tidak mampu membiayai kremasi atau menguburnya secara layak.

Kasus ini muncul setelah India melaporkan ada 370 ribu kasus baru dan lebih dari 3.700 kematian setiap hari. Gelombang besar COVID-19 ini membuat pemerintah negeri itu kewalahan dan sistem kesehatan serta para ahli mengatakan jika angka kasus dan kematian yang diumumkan pemerintah lebih rendah dari angka yang sebenarnya.

Petugas di Allahabad, salah satu kota tersuci yang menganut Hindu, di mana jutaan orang berkunjung untuk melakukan ritual pemakaman, mengatakan hampir 150 jasad dikremasi dalam tiha pekan terakhir.

Onggokan kayu untuk kremasi yang ada di sisi sungai menunggu jenazah-jenazah baru untuk dikremasi. Ada sekitar 600 jasad yang dikubur di Sungai Gangga di tengah melonjaknya kasus COVID-19, kata pihak berwenang.

Tapi, para penduduk lokal yakin itu ada sebagian kecil dari jumlah sebenarnya dan mereka khawatir lebih banyak lagi mayat yang terangkat dari tanah berpasir di sana jika aliran air semakin deras di beberapa minggu ke depan.

Sonu Chandel, pengendara perahu yang bekerja di krematorium di dekat sungai, terkejut dengan pemandangan keluarga-keluarga yang mengubur kerabat mereka di sana dua bulan lalu. Dia mengatakan, kekhawatiran muncul lagi karena air yang meningkat karena musim hujan.

“Sangat sedih melihat orang-orang miskin mengubur keluarga mereka dengan cara yang tidak bermartabat, tapi air yang meninggi membuatnya semakin buruk,” ujar Chandel kepada AFP dikutip laman The Sun. (tim)