Kremlin merespon penggulingan kekuasaan di Khartoum dengan mengajak semua pihak menahan diri dan mencari jalan keluar tanpa pertumpahan darah. Dalam keterangan persnya itu, Rusia tidak mengecam aksi kudeta.
Moskow saat ini pun sudah mulai menekan DK PBB untuk hanya menyampaikan kekhawatiran, bukan kecaman, terhadap kudeta di Sudan, klaim dua diplomat yang terlibat menyusun naskah resolusi kepada Reuters.
“Saya kira situasinya memalukan buat negara barat, bahwa militer Sudan pada akhirnya mengabaikan semua masukan dari mereka,”kata Jonas Horner dari International Crisis Group, sebuah lembaga penelitian konflik.
Keputusan Burhan menumbangkan pemerintahan sipil memicu aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi. Pada Jumat (29/10), gelombang protes menentang kudeta dilaporkan semakin menjalar di jalan-jalan ibu kota dan sejumlah kota lain.
Sejauh ini setidaknya sembilan demonstran dikabarkan tewas akibat bentrokan dengan aparat keamanan. Presiden AS, Joe Biden, mendesak militer Sudan untuk mengabulkan demonstrasi damai.
