Wakil Wali Kota Jaksel Temukan Seember Jentik Nyamuk di Duren Tiga Pancoran

Wakil Wali Kota Jaksel, Isnawa Adji mengecek jentik nyamuk di kawasan Duren Tiga, Pancoran, Jumat (31/12). Foto: Ist

IPOL.ID – Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Isnawa Adji, menemukan seember jentik nyamuk di Kelurahan Duren Tiga, RT 5/6, Pancoran. Temuan itu terjadi saat dilakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Jumat (31/12).

Menindaklanjuti temuan tersebut, Isnawa memerintahkan agar segera membuang seluruh jentik dan mengubur benda yang berpotensi menampung air. “Perlu diketahui bersama tidak ada komunikasi antar penyakit, mau itu demam berdarah (DBD) duluan yang viral atau covid terlebih dulu,” ungkap Isnawa Adji.

Menilik data yang dihimpun Sudin Kesehatan Jakarta Selatan, Kelurahan Duren Tiga pada 2021 ditemukan delapan kasus. Jumlah itu terbilang rendah dibandingkan Kelurahan Kalibata yang ditemukan 20 kasus.

Sedangkan pada 2020 silam, kasus DBD di Kecamatan Pancoran mencapai 66 kasus. Angka tersebut terbilang cukup rendah dibandingkan temuan kasus DBD di Kecamatan Pesanggrahan yang mencapai 227 kasus disusul Pasar Minggu 143 kasus, Kebayoran Baru 122 kasus, Mampang Prapatan 107 kasus, Jagakarsa 84 kasus, Setiabudi 80 kasus, Tebet 74 kasus, Pancoran 66 kasus, Cilandak 57 kasus, dan Kebayoran Lama 56 kasus.

Isnawa menegaskan, belakangan cuaca sedang lembab dan intensitas hujan cukup tinggi. Keadaan tersebut membuat pertumbuhan jentik nyamuk makin cepat.

“Rawan sekali di lingkungan ini, dirumah, lapangan, pekarangan banyak barang bekas. Kaleng, ban yg memungkinkan potensi jentik nyamuk. Terus dilaksanakan PSN nya,” kata Isnawa.

Sementara itu, Wakil Ketua TP PKK Jakarta Selatan, Sari Isnawa Adji, meminta para kader PSN untuk tidak kendor menggelar kegiatan pemberantasan jentik nyamuk. “Kerja bakti jangan kendor, PSN nya juga, sehingga apa yang kita ingikan seperti penyakit DBD nya menjadi zero case,” ujarnya.

Kasudin Kesehatan Jakarta Selatan, M Helmi mengatakan, kasus DBD pada 2021 cenderung lebih menurun dibandingkan tahun 2020. Kandungan trombosit pada darah penderita DBD juga disebutkan akan menurun drastis.

“Dibanding 2020 kasus DBD di 2021 lebih sedikit. Skemanya banyak yang trombosit rendah dibawah 100 ribu, turun terus sampe dibawah 20.000. Selebihnya akan sembuh trombosit pun akan perlahan naik,” kata Helmi.

Dia juga menyinggung soal pandemi yang hingga saat ini masih menjadi perhatian utama jajarannya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan dan protokol kesehatan yang ketat menjadi kunci agar tidak menjadi korban.

“Di luar sudah ramai tapi di Indonesia baru muncul sedikit. Oleh karena itu jangan lupa prokes tetap dijaga, jangan kendor. Tentu saja karena ini penyakit disebabkan oleh virus,” pungkasnya. (ibl)

Artikulli paraprakCatatan Akhir Tahun 2021, Komjak Dukung Tuntutan Mati Terdakwa Korupsi dengan Syarat…
Artikulli tjetërWisatawan Lokal Antusias Nikmati Malam Tahun Baru di Kawasan Malioboro Yogyakarta