“Mereka ini membeli dari agen-agen gas tiga kg. Dikumpul-kumpul, setelah kumpul gas-gas dibawa dalam satu tempat. Mereka ini barangnya bisa dibawa ke mana-mana, pindah-pindah tempat, setelah itu baru dijual. Dijualnya sudah dalam bentuk tabung 12 kg yang nonsubsidi,” bebernya.
“Kalau yang kita temukan saat ini, sementara ini mereka membeli dari agen-agen eceran. Karena agen-agen (pangkalan) ini kan tidak tahu siapa yang membeli, tetap dilayani,” tambahnya.
“Gas bisa diambil empat tabung tapi tergantung juga. Perlu ada pengecekan ya. Setiap tabung 12 kg, apa betul benar-benar 12 kg. Terkadang gak sampai 12 kg juga. Tapi kita melihat substansinya mereka dari tiga kg yang disubsidi pemerintah disuntikkan ke tabung 12 kg ke atas,” ujarnya.
Sedangkan saat beraksi, mereka menjual gas oplosan tersebut dengan harga yang tetap sama dengan harga yang ada di pasaran. “Kalau diakumulasikan dari operasi ini paling tidak selama beberapa bulan ini kerugian negara kurang lebih hampir Rp7 miliar. Kira-kira jika dihitung harga gas 3 kg dengan harga di 12 kg itu. Tinggal dilihat disparitasnya,” jelasnya.
