“Karenanya mereka cenderung tidak segan melakukan berbagai cara untuk tampil impresif, termasuk di antaranya dengan menjadi bagian dari kelompok dan gerakan ekstremis,” tambahnya.
Kelima, mereka memiliki akses luas untuk berinteraksi dengan siapa pun di dunia maya. Termasuk dengan kelompok radikal. Persinggungan di dunia maya inilah yang kerap menjadi permulaan bagi kalangan muda untuk bergabung dengan kelompok teroris.
“Khusus pada poin terakhir, banyak kalangan menyebut media sosial telah membuat kalangan anak-anak muda semakin rentan, terutama sebagaimana dikemukakan dalam temuan Wahid Foundation (2017) karena kalangan muda lebih senang belajar agama dari media sosial, dengan ustaz atau ustazah yang belum tentu terjamin kualitas keilmuan dan akhlaknya,” tuturnya.
Mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan itu mengatakan, penanggulangan bahaya radikalisme dan terorisme di kalangan perguruan tinggi harus diprioritaskan. Selain karena hal ini merupakan bagian dari tiga dosa besar di dunia pendidikan yang sedang gencar dihilangkan oleh pemerintah.
