Disebut satwa payung karena sifatnya yang melindungi ragam kehidupan yang ada di sekitar mereka. Pasalnya, anoa merupakan satwa ungulata terestrial terbesar di Sulawesi dan memiliki wilayah jelajah luas. Apabila populasi Anoa terjaga berarti sama dengan menjaga semua spesies satwa dan tumbuhan yang ada di habitatnya.
Anoa juga termasuk satwa kunci (key species), karena makanannya terdiri berbagai jenis tumbuhan, baik daun maupun buah. Buah bersama biji yang dimakan Anoa akan tersebar ke seluruh kawasan hutan, tumbuh subur dan terpencar di tempat baru bersama feses yang mereka keluarkan. Artinya, anoa bertindak sebagai egen persebaran dari keanekaragaman hayati / plasma nutfah, khususnya di Pulau Sulawesi.
Di saat bersamaan feses menjadi pupuk alam bagi tumbuhan, serta viabilitas biji tumbuhan hutan akan tinggi ketika terbuang bersama kotoran anoa.
Studi yang dilakukan dosen sekaligus peneliti konservasi Sumber daya Hutan dari KLHK, Abdul Haris Mustari menyebut, jika anoa mengonsumsi lebih dari 146 spesies tumbuhan, termasuk puluhan jenis buah. Banyak jenis tumbuhan yang regenerasi dan pemencaran bijinya tergantung anoa.