Mengingat ukuran Bulan jauh lebih kecil dibanding Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak terjadi secara tidak merata di sekujur paras bumi yang sedang terpapar sinar matahari pada saat itu.
Melainkan hanya di sektor-sektor tertentu saja yang bergantung pada geometri orbit bulan kala kesejajaran tersebut terjadi. Pada Gerhana Matahari Cincin 29 Rabi’ul Awal 1445 H, Bulan telah menempati kedudukan terjauhnya terhadap Bumi dalam orbitnya (posisi apogee) pada empat hari sebelumnya.
Saat gerhana diperhitungkan terjadi, jarak Bulan ke Bumi adalah 388.800 km, terhitung dari dari paras bumi ke paras bulan. Kedudukan tersebut lebih jauh ketimbang jarak rata-rata Bulan ke Bumi yang sebesar 376.300 km (terhitung dari paras Bumi ke paras Bulan).
Karenanya, yang terjadi adalah Gerhana Matahari Cincin. “Daratan yang menjadi wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabi’ul Awal 1445 H ini hanya meliputi sebagian besar benua Amerika dan sebagian kecil benua Afrika,” kata dosen Ilmu Falak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
