Menurut data terbaru, Saturnus memiliki 146 satelit dengan satelit terbesar bernama Titan. Yusuf dan Dhimaz menggambarkan Titan sebagai satelit dengan atmosfer yang cukup tebal dan terdapat sungai serta danau metana cair. Di permukaannya terdapat batuan serta aktivitas vulkanik yang melontarkan lava es.
Kemudian pengamatan dialihkan ke Jupiter, planet gas raksasa dengan diameter 11 kali diameter bumi serta volume 1.300 kali volume bumi. Jupiter memiliki waktu rotasi yang lebih cepat dibandingkan Saturnus, yaitu hanya sekitar 8,5 jam. Fitur gelap terang khas planet gas terlihat paling jelas di Jupiter. Di daerah perbatasan gelap terang ini terdapat friksi yang sangat sering mengakibatkan turbulensi dan badai di permukaan Jupiter. Badai paling terkenal yang selalu terlihat sejak manusia pertama kali mengarahkan teleskop ke Jupiter adalah The Great Red Spot. Disebut demikian karena badai ini terlihat seperti titik merah besar di permukaan Jupiter jika dilihat dari bumi.
Saturnus juga mengalami fenomena aurora sebagai hasil interaksi partikel bermuatan dari matahari (angin matahari) dengan medan magnet Jupiter. Berbeda dengan medan magnet bumi yang berasal inti bumi, medan magnet Jupiter berasal dari interaksi elektron-elektron gas hidrogen penyusunnya. Serupa dengan Saturnus, Jupiter juga memiliki cincin yang hanya dapat terlihat dengan detektor inframerah karena material penyusunnya bukan es serta strukturnya tidak terlalu masif. Selain itu, Jupiter juga memancarkan energinya sendiri yang lebih besar daripada energi yang diterimanya dari matahari. Hal ini sering menimbulkan miskonsepsi yang menganggap bahwa Jupiter adalah bintang yang gagal.

