“Sementara itu menggunakan uang rakyat. Dari beberapa tahapan (kerugian -red) sekitar hampir Rp11 triliun,” jelasnya menambahkan.
Berdasarkan kronologis, pada mulanya suntikan modal terjadi pada November 2020 senilai 150 juta dolar AS, dan pada 2021 sebesar 300 juta dolar AS atau setara Rp 4,3 triliun.
Lalu, jelas Usman, pada tanggal 18 Mei 2021, Telkomsel kembali membeli saham GoTo senilai 150 juta dolar AS (Rp 2,1 triliun) yang dikonversi menjadi 29.708 lembar saham.
Kemudian melakukan opsi beli lagi senilai 300 juta dolar AS (Rp 4,2 triliun). Sehingga, Telkomsel telah membeli saham GoTo sebanyak 89.125 lembar senilai Rp 6,3 triliun, di mana harga per lembar saham Rp 70 juta atau 5.045 dolar AS.
Alih-alih untung, tercatat bahwa saham GOTO turun seperti terjadi pada tahun 2022 GoTo membukukan rugi bersih Rp 40,5 triliun, tahun 2023 Emiten teknologi GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) membukukan rugi bersih Rp 90,39 triliun sepanjang tahun 2023, dengan harganya hanya RP 125 per lembar.
Dengan kata lain, maka kerugian harga pasar sekitar 60 persen dari modal Rp 6,2 triliun yaitu senilai Rp 3,2 triliun. Padahal setiap aksi korporasi BUMN pada emiten tertentu harus didasarkan pada pertimbangan bisnis dan dampak sosial yang luas dan bisa dipertanggungjawabkan secara akuntabel.
