Berdasarkan data tersebut, Menkeu mengindikasikan bahwa belanja negara yang belum mencapai 50 persen di bulan ke-7 tahun ini diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada kuartal ketiga dan keempat, seiring dengan pembayaran kontrak-kontrak yang sudah terjalin.
“Inilah yang nanti akan menjadi dinamika antara pendapatan dan belanja yang harus kita jaga sampai akhir tahun,” ungkapnya di Jakarta, mengutip Rabu (14/8/2024).
Selanjutnya, Menkeu juga melaporkan tingkat keseimbangan primer yang tetap terjaga positif di angka Rp179,3 triliun, meskipun angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu sebesar Rp394,6 triliun. Namun, defisit negara pada Juli 2024 tercatat relatif baik, yaitu Rp93,4 triliun atau setara 0,41 persen dari target GDP. Selain itu, realisasi pembiayaan anggaran juga dilaporkan on track mencapai Rp217 triliun atau setara 41,5 persen dari pagu.
“Pembiayaan kita juga masih relatif bisa terkendali, meskipun penerimaan kita mengalami tekanan karena penerimaan dari perusahaan, komoditas, dan lain-lain. Namun, belanja tetap terjaga dan defisitnya bisa kita jaga sehingga pembiayaan Rp217 triliun dari Rp522,8 triliun, itu artinya 41,5 persen, atau tumbuh 31,9 persen,” tegasnya.

