Menanam mangrove, lanjutnya lagi sebagai bentuk kesadaran bersama masyarakat Sulbar untuk bangkit bersama menyelamatkan masa depan Sulbar.”Sekaligus menggerakkan Sulbar menjadi bagian penting upaya pemimpin seluruh dunia menyelamatkan bumi dari pemanasan global,” katanya.
Menanam manggrove selama seminggu tidak sekadar seremonial. Melainkan jelas target dan luasan yang ditanami dan akan mendidik masyarakat menanam mangrove menjadi kebiasaan dan kelak akan membudaya. “Menanam mangrove adalah salah satu kegiatan rutin menanam yang sedang kami lakukan selama memimpin Sulbar,”imbuhnya.
Untuk itulah, Bahtiar menghimbau warga Sulawesi Barat untuk menumbuhkan rasa terimakasih kepada alam Sulbar yang selama ini telah menjadi sumber kehidupan warga dengan cara mengambil hasil alam Sulbar yang sudah ber abad – abad lamanya. “Maka menanam mangrove wujud merupakan bentuk terimakasih kita secara nyata kepada alam Sulbar serta bentuk kecintaan kita pada tanah Sulbar,” jelasnya.
Selain itu kehadiran mangrove sebagai alat persatuan masyarakat karena ekosistem ekonomi mangrove tempat hidup bersama warga pesisir dan secara adil semua warga tanpa diskriminasi boleh mengambil manfaat keberadaan mangrove.

