Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi Mengatasinya
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Nasional > Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi Mengatasinya
Nasional

Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi Mengatasinya

Timur
Timur Published 02 Sep 2024, 12:58
Share
3 Min Read
Ilustrasi. Dome of Rock di Palestina. Wilayah ini menjadi kawasan suci tiga agama. Foto; Haleyve / pexels
Ilustrasi. Dome of Rock di Palestina. Wilayah ini menjadi kawasan suci tiga agama. Foto; Haleyve / pexels
SHARE

IPOL.ID – Ketidaksukaan atau prasangka  terhadap Islam atau Muslim, khususnya sebagai kekuatan politik, Kemudian ketakutan yang tidak rasional, permusuhan, atau prasangka terhadap Islam atau Muslim. Sentimen seperti itu terkadang diungkapkan melalui stereotip  yang menggambarkan Muslim sebagai ancaman geopolitik atau sumber terorisme .

Hal ini disampaikan oleh Dian Wirengjurit, Mantan Duta Besar RI untuk Iran dan Analis Geopolitik dan Hubungan internasional pada diskusi yang diadakan oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) bekerja sama dengan Yayasan Persada Hati dan Maha Indonesia dengan tema “Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi Mengatasinya” yang dilaksanakan secara luring baru-baru ini di Jakarta.

Dian mengutip Muis dan Immerzeel bahwa sayap kanan radikal telah difokuskan pada partai politik, pemilihan umum dan perilaku electoral dengan sedikit perhatian pada lingkungan non-partisan dan fenomena budaya yang mengelilingi keberhasilan partai radikal.

Ketua PIEC, Pipip A. Rifai Hasan, sebagaimana dilansir dalam siaran pers yang diterima redaksi, memaparkan bahwa Islamofobia merupakan ketakutan yang tidak rasional, kebencian, atau diskriminasi terhadap Islam atau orang-orang yang mempraktikkan Islam. “Islamofobia ini mulai kembali meningkat di Eropa dan AS. Sentimen mengenai ini telah masuk dalam kebijakan mantan presiden AS Donald Trump dan Mantan Kanselir Austria Sebastian Kurz.”

Baca Juga

Ilustrasi pasar modal, saham, emiten. Foto: energepic/pexels
Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia
Militerisasi di Pemerintahan Prabowo-Gibran: Sebuah Pengkhianatan terhadap Reformasi?
Tadarus Pemikiran Islam: Menghidupkan Pemikiran Islam Transformatif

Peningkatan islamophobia akhir-akhir ini sejalan dengan lonjakan pengungsi yang datang dari berbagai negara Arab. Terutama Palestina, Suriah, Irak, Libya dan berbagai negara Afrika yang mencari perlindungan dari konflik bersenjata.

Pipip melihat ada informasi palsu yang dengan cepat menyebar menyatakan bahwa pelakunya adalah seorang imigran muslim sehingga menimbulkan kemarahan bagi kelompok ekstrem kanan.

“Namun, islamophobia tidak akan menyelesaikan masalah, muslim dan non-muslim perlu mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak yang berkonflik dengan tujuan untuk menciptakan kehidupan yang menjamin keadilan dan kerukunan bersama” harapnya.

Islamofobia hanya mungkin dihilangkan atau dikurangi jika terjadi dialog dan kerja sama antar berbagai agama dan peradaban dunia. Di mana muslim dan non-muslim harus saling memahami, menghargai dan bekerja sama untuk menciptakan perdamaian dunia dan membangun masa depan yang lebih baik.

“Hal ini sangat penting bagi umat beragama dan berbangsa untuk menanamkan sikap rendah hati dan tidak menganggap agama serta peradabannya lebih unggul dari yang lain. Dengan demikian, dunia akan menjadi tempat yang lebih toleran dan damai bagi seluruh masyarakat di dunia” pungkas Pipip. (tim)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: dialog antaragama, Islam, Islamophobia, Universitas Paramadina
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article Atlet boccia Indonesia, Gischa Zayana dan Muhammad Afrizal Syafa, sukses mempersembahkan dua medali perunggu di Paralimpiade Paris 2024. Raihan ini menjadi sejarah baru bagi boccia Indonesia.(foto: NPC Indonesia) Indonesia Rebut 2 Medali Perunggu Paralimpiade Paris 2024
Next Article Bank Mandiri saat memfasilitasi pembukaan rekening bagi Pelatih Tim Nasional (Timnas) Sepakbola Indonesia, Shin Tae Yong. Foto: Dok Bank Mandiri Bank Mandiri Sambut Shin Tae Yong dengan Golden Visa, Buka Jalan Investasi Asing di Indonesia

TERPOPULER

TERPOPULER
Ramalan Zodiak
Gaya hidup

Ramalan Zodiak 17 Mei: Mulai dari Cinta, Karier, Kesehatan hingga Keuangan

Olahraga
Masuk Grup F Piala Asia 2027, John Herdman Tegaskan Ini Tantangan dan Peluang Besar
17 May 2026, 16:30
Olahraga
Cukur Semen Padang 7-0, Tavares Justru Kritik Permainan Persebaya
17 May 2026, 14:13
Nasional
Hari Ini Kemenag Gelar Sidang Isbat Penetapan Awal Dzulhijjah 1447 H
17 May 2026, 11:45
Gaya hidup
Pakai Cara Ini Agar Pohon Cabai Tumbuh Subur hingga Berbuah Lebat
17 May 2026, 19:30
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?