Yahya Sinwar dinilai sebagai tokoh radikal. Ia tidak pernah mendukung solusi dua negara, karena baginya Israel seharusnya dimusnahkan. Pemikiran Sinwar ini berbeda dengan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh – yang dibunuh Israel pada 31 Juli lalu – yang justru membuka jalan bagi berlangsungnya perundingan dan gencatan senjata dengan syarat-syarat yang diatur Hamas.
Namun upaya perundingan dan gencatan senjata itu menemui jalan buntu ketika Yahya Sinwar menggantikan posisi Ismail Haniyeh pasca kematiannya. (tim/voa)
