Program bertujuan memantau dan mengelola kinerja pembangkit listrik secara real time melalui konektivitas digital, yang diharapkan dapat mengoptimalkan dua indikator penting bisnisnya, yakni EAF (Equivalent Availability Factor) dan EFOR (Equivalent Forced Outage Rate).
Menurut Edwin, sejak dimulainya program Transformasi 2.0, PLN IP berhasil menghubungkan mesin pembangkit ke sistem REOC, yang memungkinkan pemantauan dan pengelolaan secara lebih efisien.
“Komitmen perusahaan ialah menghubungkan seluruh unit dan mesin pembangkit ke dalam sistem ini yang akan meningkatkan efisiensi operasional dan keandalan pembangkit listrik,” ungkapnya.
Edwin menuturkan pada 2023, PLN IP menunjukkan kemajuan yang signifikan dengan realisasi EAF mencapai 89,54 persen dan EFOR 3,63 persen.
Capaian tersebut menempatkan PLN IP pada jalur yang tepat untuk mencapai target menuju Top 10 standar North American Electric Reliability Corporation (NERC), yang merupakan standar internasional untuk kinerja pembangkit listrik.
