Masalah kendaraan listrik otonom dapat dikatakan sebagai masalah optimasi bi-objektif. Fungsi tujuan bersifat linier sehingga metode sekalarisasi jumlah tertimbang dapat diterapkan. Kendala ketimpangan tersebut dapat diakomodasi untuk menghindari ruas rute yang mengandung kekuatan medan elektromagnetik yang berbahaya. “Dengan memilih faktor penimbangan yang sesuai, pengguna dapat menentukan apakah faktor yang dominan adalah energi (jarak pendek) atau keselamatan (EMI rendah),” jelas Sardjono.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung industri dalam penerapan teknologi kendaraan otonom. “Kami berharap hasil penelitian ini dapat diimplementasikan pada Automated Guided Vehicle (AGV) industri agar keandalannya tetap terjaga saat memasuki fase komersialisasi. Selain itu, metode pengukuran OATS yang efisien dapat digunakan oleh industri nasional untuk melakukan tes pra-kepatuhan, sehingga dapat mengurangi biaya produksi produk yang andal,” pungkas Sardjono. (ahmad)