“Pengalaman saya, ada siswa yang berprestasi di sekolah dan olahraga. Justru di ping-pong saat mengurus masuk sekolah. Saya kira ini sangat memalukan. Bagaimana anak mau berprestasi, jika saat meminta hak atas prestasi yang dibuat, justru dipersulit oleh pemerintah,” kesalnya.
Karena itu, dia berharap jika proses pembentukan bibit atlet dimulai sejak dini dengan ketersediaan fasilitasnya berjalan baik.
Hal yang juga perlu dilakukan pemprov dan KONI memerhatikan para atlet yang berprestasi dengan memberikan kemudahan bagi beasiswa sekolah. Agar, sambung Desie jangan lagi ada atlet yang sudah juara internasional, malah berakhir dengan tragis.
“Saya dapat info, ada atlet yang berprestasi internasional. Pasca tidak lagi menjadi atlet, hanya berjualan es keliling kampung. Seharusnya kalau pemprov memerhatikan para mantan atlet, hal sepeti ini tidak akan terjadi,” tandasnya.(sofian)