Ketika hal itu tidak terjadi, implikasinya besar, klaim Askar.
“Penurunan pemudik itu berdampak pada pengurangan ketimpangan ekonomi. Karena uang ini tidak hanya mengalir dari kota ke desa, tapi juga dari luar Indonesia ke dalam negeri,” jelasnya.
“Kalau uang itu berkurang maka sebagian daerah hanya menerima arus uang yang sedikit dari orang-orang yang tinggal di kota. Sehingga secara agregat, ketimpangan pendapatan antar-wilayah semakin tinggi.”
“Sebab sebagian daerah bergantung pada konsumsi dan belanja saat mudik,” tukasnya.
“Contoh kalau Lebaran beli oleh-oleh, belanja ke warung, atau sewa tukang ojek di kampung. Kalau perantau enggak pulang, uangnya kan enggak nyebar.”
Selain berdampak pada ketimpangan ekonomi, momen mudik juga sebetulnya dapat mengurangi kemiskinan di daerah-daerah. Ilustrasinya, kata Askar, biasanya pada saat Idulfitri banyak masjid di kampung-kampung mengumpulkan amal infak.
Hasil dari kegiatan itu—yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta—dipakai untuk membantu anak yatim piatu.