Maka, kalau jumlah pemudik turun, otomatis uang untuk membantu mengentaskan kemiskinan di daerah juga berkurang.
“Terakhir, momen Lebaran juga memberi kesempatan kerja bagi pengangguran musiman di daerah. Mereka yang tidak kerja, tiba-tiba jualan minuman atau makanan saat Lebaran.”
“Kalau perantau enggak pulang ya pendapatan mereka kecil kan?”
Itu mengapa Askar menilai turunnya angka pemudik menjadi tanda bahaya. Jika situasinya tak berubah, bakal sulit bagi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi sampai 8%.
“Artinya perlambatan ekonomi akan terus berlangsung,” jelasnya.
Pemerintah membantah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perputaran uang selama Lebaran tahun 2025 tidak menurun, melainkan berada pada tingkat moderat.
Hal ini disampaikan menyusul prediksi dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang memperkirakan perputaran uang Lebaran hanya mencapai Rp 137,97 triliun, turun 12,3 persen dari Rp 157,3 triliun tahun lalu.
“Moderat. Lebaran tahun sebelumnya ada Pilpres dan Pileg, jadi berbeda,” kata Airlangga, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (26/03), seperti dilansir Kompas.com.