“Sekarang kan mayoritas pekerja itu syaratnya minimal usia 18 tahun sampai 25 tahun, saya sudah di atas 40 tahun mau bagaimana?” tanyanya.
Untuk bertahan hidup, Supriyono harus berhemat betul.
Tabungannya bekerja selama 28 tahun, dia pakai hanya untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak yang masih kuliah dan sekolah menengah atas.
Bahkan untuk mudik saja, ia urungkan.
“Posisi tidak bekerja, di-PHK, tidak punya penghasilan tetap… mau mudik gimana, sedangkan ongkos mudik tahu sendiri,” ujarnya lemas.
“Tahun ini betul-betul masa paling sulit buat saya sekeluarga, karena setiap tahun pasti selalu pulang kampung ke Kebumen.”
“Ada perasaan sedih, namanya lebaran kan orang-orang pada pulang, kami enggak bisa. Biasanya kumpul-kumpul bareng keluarga, silaturahmi dengan adik-kakak-paman-sepupu… saya kangen silaturahmi dan kumpul-kumpulnya.”
Di momen Lebaran pun, dia bilang tidak akan kemana-mana, hanya di rumah bersama keluarga kecilnya. Tak ada baju baru ataupun kudapan spesial.
Nasib serupa juga dialami Hamidah, perantau dari Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.