Perempuan berusia kepala empat ini tak bisa mudik seperti tahun-tahun sebelumnya karena tak ada duit setelah diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan konveksi tempatnya bekerja pada akhir Februari lalu.
“Saya disuruh menandatangani surat pengunduran diri sebelum kontrak habis tanpa alasan yang jelas,” ujar Hamidah.
Hamidah mengatakan sejak terkena PHK itu, pikirannya kalut apalagi mendekati momen Lebaran. Ia bimbang: rindu pada kampung halaman tapi keuangannya cekak.
“Saya akhirnya memutuskan enggak pulang, karena buat ongkos juga mahal kan sekarang? Terus nanti saya balik pakai biaya lagi ke sini,” tuturnya.
Dulu setiap kali mudik, dia biasa mengendarai sepeda motor bersama suami. Sesampainya di Pelabuhan Merak, Banten, mereka menumpang kapal sampai ke Pelabuhan Bakauheni.
Setelahnya masih harus melanjutkan perjalanan darat sejauh 66 kilometer ke kampung halamannya.
Dan setiap kali mudik, setidaknya Hamidah harus mengantongi duit sebesar Rp3 juta.
“Kalau ditotal ongkos bolak-balik berdua Rp600.000. Tapi kan masalahnya keluarga banyak, ponakan saya banyak di kampung. Enggak mungkin pulang, enggak kasih apa-apa kan?”