“Daya beli masyarakat itu lagi sulit-sulitnya. Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sampai layanan jasa seperti tiket bus, kereta, bahkan pesawat sudah pasti memengaruhi,” jelasnya kepada BBC News Indonesia, Minggu (30/03/2025).
Pantauan Celios, ambruknya daya beli masyarakat sebetulnya sudah terasa sejak pertengahan tahun lalu. Kala itu Indonesia tercatat mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024.
Deflasi kembali berlanjut pada Februari lalu, atau satu bulan jelang Ramadan—masa di mana tingkat konsumsi masyarakat biasanya meningkat.
“Jadi memang daya beli masyarakat lagi rendah-rendahnya.”
Lesunya daya beli ini, sambung Askar, tak lepas dari tingginya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor. Mulai dari industri manufaktur, teknologi, perbankan, pengolahan, jasa, hingga ritel.
Tapi sektor manufaktur merupakan salah satu sektor yang paling banyak menyumbang PHK.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak kurang lebih 80.000 orang mengalami PHK sepanjang 2024. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar di angka 60.000 orang.