“Dan saat orang di-PHK, mereka pasti menyimpan uangnya untuk membeli yang penting-penting saja kan?” imbuhnya.
Faktor berikutnya selain PHK, ketidakpastian usaha dan upah yang stagnan.
“Masyarakat kan juga cerdas ya, mereka harus berhati-hati mengelola keuangan. Yang punya usaha karena perlambatan ekonomi daripada pulang kampung menghabiskan uang, lebih baik menahan.”
Terakhir adalah terjadi penurunan bantuan sosial ke masyarakat. Pengamatan Celios, turunnya sekitar 16% atau dari Rp168 triliun pada tahun lalu kini menjadi Rp140 triliun saja.
Bantuan sosial, menurut Askar, menjadi “napasnya” masyarakat kelas bawah untuk bertahan hidup. Bantuan ini pula, katanya, digunakan untuk menjalankan usaha di kotanya masing-masing.
“Dalam situasi sekarang, uang dari bantuan sosial bisa dipakai untuk mudik.”
Askar menuturkan anjloknya jumlah pemudik ini tak bisa dianggap sepele. Sebab semakin sedikit uang beredar di masyarakat menjadi penanda bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia jeblok.
Karena di momen inilah semestinya terjadi perputaran uang secara besar-besaran dari kota ke desa. Sekaligus menjadi indikator berlangsungnya aktivitas ekonomi.