“Di bulan Mei 2025 ini kami bersiaga untuk menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan,” jelas Suharyanto.
Pada konteks prabencana, Kepala BNPB mengungkapkan, ini masih menjadi tantangan hingga kini. Misalnya pada potensi bahaya gempa dan tsunami, BNPB terus mengembangkan sistem peringatan dini melalui program IDRIP. Sedangkan untuk bencana hidrometeorologi, pihaknya juga tengah membangun ekosistem aksi dini bekerja sama dengan Pemerintah Spanyol.
BNPB tidak hanya melakukan penanggulangan bencana dalam negeri, tetapi juga mewujudkan solidaritas dengan pemberian bantuan kepada negara-negara yang terdampak bencana.
Suharyanto katakan, Indonesia dan Malaysia sama-sama memberikan bantuan pascagempa Myanmar beberapa waktu lalu.
Di akhir paparan, Kepala BNPB menyinggung Indonesia telah memiliki perencanaan jangka panjang dengan adanya Rencana Induk Penanggulangan Bencana 2020-2044.
Kerja Sama Berkelanjutan
Setelah mendapatkan penjelasan dari Kepala BNPB, rombongan Wakil PM meninjau AHA Centre yang berada di Graha BNPB, melanjutkan ke Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana. Kunjungan tersebut untuk memahami manajemen informasi dan interoperabilitas antara pusdalops di BNPB dan AHA Centre.
