Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan hanya membantu dari sisi materi, tapi memberi anak-anak inspirasi dan motivasi.
“Mereka jadi punya gambaran bahwa mereka juga bisa kuliah, bisa bermimpi besar, dan tidak merasa sendiri di dunia ini,” lanjut Wawan.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat, mahasiswa tidak hanya mendengarkan cerita dari pengurus, tetapi juga bertanya dan mencoba memahami tantangan-tantangan yang dihadapi dalam mengelola panti. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana panti menjaga semangat belajar anak-anak di tengah keterbatasan.
Pertanyaan-pertanyaan ini membuka ruang refleksi bersama, bahwa pendidikan dan perhatian emosional tidak kalah penting dari bantuan fisik.
Maiqal B Adibowo, mewakili Yayasan Daarul Hasanah menyatakan bahwa kegiatan seperti ini memupuk rasa kepedulian sesama.
“Kegiatan seperti ini penting bukan hanya untuk anak-anak panti, tapi juga untuk mahasiswa itu sendiri. Di masa seperti sekarang ini, mempererat hubungan sosial dan rasa peduli terhadap sesama adalah hal yang sangat esensial. Kami menyambut baik semua bentuk kolaborasi dan keterlibatan masyarakat, termasuk dari lingkungan kampus,” ucapnya.

