Contohnya di pulau Jawa, terdapat Takbir Keliling seperti Yogyakarta dan Solo. Sementara di Madura, takbiran dilakukan dengan tradisi Tellasan Topa’ dan di luar jawa seperti di Aceh, melakukan seni Rateb Meuseukat atau tarian sufistik dan di Minangkabau, Sumatera Barat, masyarakat mengadakan Takbiran Bararak. Sementara di Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan, terdapat tradisi Mappadendang, yang diiringi bunyi tabuhan lesung sebagai simbol rasa syukur.
“Masyarakat di nusantara sangat inklusif, tidak hanya menghargai ajaran Islam tetapi merangkul kebudayaan lokal. Keterlibatan masyarakat dari seluruh lapisan masyarakat baik di kota maupun di pelosok, jadi tidak ada perbedaan,” ungkapnya.
Malam Spiritualitas atau Sekadar Euforia?
Di beberapa daerah, takbiran berubah menjadi ajang kompetisi siapa yang memiliki bedug terbesar, siapa yang bisa membuat replika masjid paling megah, atau siapa yang memiliki pawai takbir paling meriah. Tak jarang, perayaan ini juga diiringi dengan petasan dan kembang api, yang justru menjauhkan dari makna asli takbir.