Sarana tambahan ini disiapkan untuk mendukung proyeksi angkutan batu bara sebesar 111,2 juta ton dan 10,9 juta ton angkutan non-batu bara pada 2029, termasuk dari proyek Sumbagsel, Tarahan II, dan Kertapati yang diperkirakan menambah total volume.
Dengan kemampuan menarik 61 gerbong (setara 3.050 ton), satu rangkaian KA batu bara dapat menggantikan 120 truk kontainer berukuran 40 kaki. Selain menurunkan emisi CO₂ hingga 84% dibanding moda darat, angkutan berbasis rel juga mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas dan memperpanjang usia infrastruktur jalan raya.
“Kami memandang pengadaan dan pengecekan ini bukan hanya soal kesiapan teknis, tetapi juga bentuk tanggung jawab kami terhadap keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan logistik nasional,” tambah Anne.
KAI terus mendorong peralihan distribusi barang ke jalur rel melalui sinergi dengan pelaku industri, operator logistik, dan regulator. Lokomotif baru ini diharapkan menjadi elemen penting dalam menciptakan sistem distribusi barang yang lebih hijau, terukur, dan kompetitif.

