Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mencatat sekitar 34,9% anak Indonesia, atau setara 15,5 juta anak, mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Lebih dari itu, 64,7% anak mengalami masalah hubungan dengan keluarga, sementara 41,1% kesulitan menjalin hubungan dengan teman sebaya. Angka ini mengindikasikan bahwa ketahanan emosional dan keterampilan sosial anak masih rapuh.
Tidak hanya itu, sebuah jurnal yang terbit Januari 2025 berjudul “Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Kognitif dan Sosial Anak” menyebutkan bahwa penggunaan gadget berlebih dapat menurunkan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial dan berempati. Hal ini sejalan dengan studi KemenPPPA bersama UNICEF (2023) yang melaporkan bahwa anak-anak Indonesia rata-rata mengakses internet 4–5 jam per hari, dan lebih dari 60% orang tua mengaku khawatir terhadap dampaknya pada perkembangan emosional maupun sosial anak.
Menurut Psikolog Elisabeth Santoso, M.Psi, Kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan mereka dengan orang tua, terutama ibu. Kasih sayang, komunikasi yang terbuka, dan bonding yang positif dapat menjadi ‘tameng’ yang membuat anak lebih tangguh menghadapi bullying, tekanan akademis, maupun kegagalan.

