Sementara itu Kepala Sekretaris Pemerintah, Eaknarayan Aryal, melaporkan korban jiwa akibat kerusuhan mencapai 72 orang dalam dua hari, sementara 191 lainnya terluka.
Angka tersebut meningkat dari laporan awal 51 orang tewas. Peristiwa ini disebut sebagai kerusuhan paling buruk sejak berakhirnya perang saudara dan penghapusan monarki pada 2008.
Penunjukan Karki, yang dikenal karena integritasnya, terjadi setelah negosiasi intensif antara Panglima Angkatan Darat, Presiden, dan perwakilan ‘Gen Z’.
Ribuan aktivis muda menggunakan Discord untuk menunjuk Karki sebagai pilihan mereka. Karki sendiri mengaku tidak ingin berada di posisi tersebut.
“Dalam situasi yang saya hadapi ini, saya tidak ingin berada di sini. Nama saya dibawa dari jalanan,” ungkapnya.
Parlemen Nepal kemudian resmi dibubarkan, dengan pemilu dijadwalkan pada 5 Maret 2026. Karki memastikan dirinya hanya akan menjabat enam bulan sebagai PM sementara.
“Kami tidak akan tinggal di sini lebih dari enam bulan dalam situasi apa pun, kami akan menyelesaikan tanggung jawab kami dan berjanji untuk menyerahkannya kepada parlemen dan menteri berikutnya. Ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan Anda,” katanya. (far)

