Dia pun mempertanyakan efektivitas jaringan intelijen yang sejatinya sangat besar dan memiliki sumber daya cukup untuk mendeteksi ancaman.
“Kalau problemnya adalah penyusup, harusnya kan aparat keamanan punya banyak sekali intel, aparat keamanan kita di Indonesia itu banyak sekali intel. Kita mendidik dan menggaji banyak sekali intel kenapa mereka tidak mampu mengantisipasi hal ini. Kenapa justru seluruh kekerasan dialamatkan kepada demonstran?” katanya.
Menurutnya, mayoritas peserta aksi turun ke jalan dengan niat murni menyampaikan aspirasi, bukan merusak. Aksi anarkis seperti pembakaran biasanya baru muncul saat situasi memanas akibat bentrokan dengan aparat.
“Memang saya kira hari ini saya kira jauh lebih aware, lebih sadar untuk tidak membabi buta atau melakukan pembakaran terutama penjarahan dan pembakaran,” ungkapnya.
Namun demikian, menurtnya, bukan berarti semua kekerasan berasal dari massa aksi.
“Memang hal-hal seperti ini mungkin terjadi ketika sudah ada clash, sudah ada bentrokan karena kedua belah pihak sudah dalam posisi marah dan emosional, mungkin saja terjadi,” katanya.
