
Menurut Danang, pengadaan bus listrik nantinya tidak dilakukan dengan membeli langsung, melainkan melalui sistem lelang untuk beli layanan. “Kita lelang beli layanan, bukan busnya. Jadi vendor atau konsorsium yang memenuhi persyaratan akan mengelola koridor yang telah disiapkan,” jelasnya.
Uji coba juga dilakukan untuk memastikan kemampuan baterai bus menghadapi medan di Kota Semarang yang bervariasi. “Di daerah tanjakan tentu penggunaan baterai lebih besar, jadi kita lihat dulu apakah mampu melayani satu hari penuh,” katanya.

Bus listrik buatan Surabaya ini diklaim memiliki jarak tempuh lebih dari 250 kilometer per pengisian baterai. Kapasitas bus besar mencapai 72 penumpang, sedangkan bus sedang menampung sekitar 40 orang.
Danang menambahkan, desain interior bus juga akan disesuaikan agar lebih nyaman dan ramah bagi penyandang disabilitas.
“Kami ingin penumpang bisa lebih nyaman dengan kursi menghadap ke depan dan akses mudah bagi disabilitas tanpa harus naik ke halte tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BLU Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menyampaikan bahwa uji coba ini merupakan bagian dari implementasi koridor hijau yang telah dikaji sejak lama.
