Namun, peningkatan dana bukan hanya soal angka. Ada tuntutan baru: hasil riset harus bergerak sejalan dengan prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan, energi, air, hingga hilirisasi industri. Dengan arah yang jelas, Stella berharap penelitian di kampus-kampus tak berhenti pada jurnal, tetapi menjelma solusi nyata.
“Yakinlah bahwa publikasi Bapak dan Ibu adalah kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya memberi semangat.
Memperjuangkan Insentif Langsung untuk Peneliti
Di balik panggung, Stella mengakui satu perjuangan yang masih ia kejar: insentif riset langsung dari APBN. Menurutnya, peneliti harus mendapatkan penghargaan yang setara dengan kontribusinya.
“Kami belum berhasil 100 persen. Belum setengah dari dana kami yang bisa diberikan langsung sebagai insentif. Tapi kami perjuangkan,” ungkapnya. Baginya, tanpa insentif langsung, semangat para peneliti sulit bertumbuh maksimal.
Pernyataan Stella pada KPPTI hari itu bukan sekadar klarifikasi, tapi sinyal bahwa pemerintah tengah memperkuat fondasi ilmu pengetahuan nasional. Kenaikan dana riset 218 persen menjadi penanda era baru—era di mana riset lokal tidak lagi berjalan dengan sumber daya minim, melainkan didukung politik anggaran yang lebih berpihak.
