Lebih lanjut, Purbaya mengklaim bahwa pegawai Bea Cukai kini mulai menunjukkan semangat memperbaiki diri. Pemerintah juga mulai menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) di sejumlah titik untuk menekan praktik-praktik curang, seperti underinvoicing atau pelaporan nilai barang ekspor-impor yang dibuat lebih rendah dari harga sebenarnya.
“Sekarang cukup baik kemajuannya. Saya pikir tahun depan (2026) sudah aman lah. Artinya Bea Cukai akan bisa bekerja dengan baik dan profesional,” tutur Purbaya optimistis.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa kegagalan pembenahan akan berujung pada konsekuensi besar.
“Kalau kita gagal memperbaiki, nanti 16 ribu orang pegawai Bea Cukai dirumahkan. Mereka pintar-pintar dan siap mengubah keadaan,” lanjutnya.
Pembekuan Bea Cukai pernah dilakukan pada 1985 di era Presiden Soeharto. Seluruh pegawai kala itu dirumahkan hingga empat tahun sebagai langkah tegas memberantas korupsi yang merajalela. Untuk menggantikan tugas bea cukai, pemerintah menggunakan perusahaan Swiss, Suisse Generale Surveillance (SGS).
