“Kami sangat mendukung event-event yang diselenggarakan oleh MikLife dan Djarum Foundation ini, karena jumlah peserta terus bertambah. Tidak hanya dari Kudus dan sekitarnya, tetapi juga sudah ada dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Selain itu, kualitas para atlet muda juga menunjukkan perkembangan yang membanggakan, dapat dilihat dari adanya lonjakan skor dan kemampuan teknis dari tahun ke tahun,” jelasnya.
Atmosfir Kompetitif Semakin Terasa
Perebutan gelar Juara Umum MilkLife Archery Challenge Seri 2 berlangsung kompetitif, peserta yang membawa nama sekolah masing-masing tampil sangat baik, dengan poin yang susul-menyusul di setiap set. Namun, MI NU Banat Kudus berhasil menyabet dan membawa pulang gelar Juara Umum dengan total perolehan 6 medali, masing-masing dari sektor individu (1 emas dan 1 perunggu) dan sektor beregu (1 emas, 2 perak, 1 perunggu). Kepala MI NU Banat Faukhil Wardati mengungkapkan, sekolahnya menerjunkan 52 atlet pada kejuaraan ini. Berkat latihan rutin, mereka akhirnya berhasil meraih poin tertinggi.
“Syukur kepada Allah dan kami sangat bangga kepada murid-murid. Mereka telah rutin dan tangguh berlatih keras. Terima kasih kepada bapak dan ibu guru dan juga para orangtua. Ini semua berkat kerja keras kita semua. Terima kasih pula kepada MilkLife dan Djarum Foundation yang telah memberi kesempatan dan wadah kejuaraan seperti ini kepada kami,” ujar Faukhil.
Sementara itu, pada pertandingan Nasional KU 15 di sektor putri, Kori Rajwa Nuha Saputro dari SMP Khusus Olahraga (SKO) Surakarta sukses menumbangkan lawannya Shakila Queena Elrakha dengan set point 6-2 (111-104). Terpaut satu poin, pada sektor putra, Muhammad Keanu Refi Atallah dari SD Muhammadiyah 1 Ngaglik Sleman berhasil merebut kemenangan atas Pascha Hiro Rianno (SMP Khusus Olahraga Surakarta) dengan set point tipis 6-4 (126-125), persaingan ketat mewarnai pertandingan babak final karena Keanu sempat tertinggal di set pertama. Saat berusaha mengejar ketertinggalannya, Keanu justru kehilangan satu anak panah yang melesat di luar shoot target.
“Saya senang tetapi sempat deg-degan karena lawannya sudah menang di set pertama. Namun akhirnya saya bisa menguasai diri dan mengejar ketertinggalan. Meski saya tidak tinggi (secara postur) tapi saya yakin dengan persiapan saya, membuat prima dan optimis bisa memenangkan pertandingan,” cerita Keanu.
Pelatih Hendra Purnama mengatakan Keanu sering mengikuti kejuaraan dan training camp sehingga jam terbangnya lebih banyak dari atlet panahan seusianya. Selain itu, Keanu yang secara postur tubuh memiliki tinggi badan 135 sentimeter juga sudah dilatih dari berbagai macam aspek, termasuk mental dan fisik, sehingga tahan banting saat menghadapi lawan yang tangguh.
“Dari sejak masa persiapan, kemampuan Keanu bisa dibilang sudah matang. Dia mengikuti banyak turnamen dan training camp di Yogyakarta. Di camp tersebut, kami tidak hanya memenuhi kebutuhan atlet dari segi fisik namun juga teknik, taktik, dan juga mental, karena kami menyiapkan Keanu untuk jangka panjang,” papar Hendra.
