“Bantuan ini membuat produknya lebih tahan lama, terutama minuman pare ini tidak menggunakan pengawet” ujar Kartika.
Penggunaan alat tersebut diharapkan dapat mendorong produktivitas lebih baik. Kartika menghitung bahwa dengan adanya drying food ini dapat meningkatkan dua hingga tiga kali lipat.
Freddy menambahkan selain label dengan desain baru, kini logo dari Teparelicious juga sudah dilengkapi dengan Augmented Reality sehingga dapat menjelaskan manfaat pare dengan lebih menarik.
Selain berfokus pada pengembangan produk, pengabdian ini juga menjadi ruang kreativitas mahasiswa untuk ikut terlibat dalam kegiatan akademis dosen. Melibatkan mahasiswa dari prodi penyiaran dan teknologi rekayasa multimedia, menghasilkan video profil untuk mengenalkan proses olahan dan manfaat pare.
Aulia, salah satu tim pengabdi mahasiswa dari program studi Penyiaran menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian menjadi ajang untuk mengasah skill yang dimiliki, khususnya terkait rebranding.
