Bagai tersambar petir disiang bolong, Bu Enung yang menerima telfon dari orang pihak kepolisian pada pukul 5 pagi selepas menunaikan solat subuh, tanpa berlama-lama lagi Bu Enung bergegas pergi ke rumah sakit tempat Pamor dirawat. Operasi dibagian kepala harus segera dilakukan untuk menyelamatkan Pamor, setelah operasi Pamor memerlukan perawatan intensive di ruang ICU selama lima hari dalam kondisi koma dan belum sadarkan diri. Hingga akhirnya, Tuhan berkehendak lain, kondiri Pamor drop dan kritis sampai dinyatakan meninggal dunia.
“Pamor itu anak yang luar biasa, selalu memperhatikan saya dan selalu berusaha mencukupi kebutuhan ibunya. Saya enggak nyangka Pamor secepat itu dipanggil sama yang maha kuasa” kenang Bu Enung, dengan air mata yang mengalir.
Kehidupan Ibu Enung sempat limbung. Tidak punya pegangan dan sempat bingung bagaiaman melanjutkan hidupnya. Bukan hanya kehilangan anak yang menjadi sandaran hidup, tapi juga kehilangan tempat bergantung secara ekonomi. Namun di tengah rasa duka yang mendalam, kehadiran negara melalui BPJS Ketenagakerjaan dengan santunan kematian yang ditinggalkan alm Pamor sebesar Rp42.000.000 memberiakan inspirasi bagi Bu Enung, berbekal kemampuan membuat lotek dan karedok dengan sisa santunan yang telah digunakan untuk biaya pemakaman dan tahlil serta kebutuhan kedukaan alm. Pamor Bu Enung mencoba peruntungan dengan membuka usaha kecil-kecilannya.

