“Proyek ini merupakan langkah penting menuju terciptanya stasiun ilmiah bulan yang berfungsi secara permanen dan transisi dari misi sekali waktu ke program eksplorasi Bulan jangka panjang,” tulis Roscosmos, dikutip Kamis (25/12/2025).
Kepala Roscosmos, Dmitry Bakanov, sebelumnya pada Juni lalu menyampaikan ambisi Rusia untuk membangun PLTN di Bulan serta memperluas eksplorasi antariksa hingga ke Venus, planet terdekat dengan Bumi.
Pembangunan fasilitas energi di Bulan dinilai krusial mengingat karakteristik satelit alami Bumi tersebut yang berjarak sekitar 384.400 kilometer. Selain berperan menjaga stabilitas iklim Bumi dengan mengurangi goyangan pada poros rotasi, Bulan juga memengaruhi pasang surut air laut.
Rusia bukan satu-satunya negara yang menaruh perhatian pada pengembangan energi nuklir di Bulan. Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) pada Agustus lalu juga mengumumkan rencana menempatkan reaktor nuklir di Bulan pada kuartal pertama tahun fiskal 2030.
“Kita sedang berlomba menuju Bulan, berlomba dengan China ke Bulan. Dan untuk memiliki pangkalan di Bulan, kita membutuhkan energi,” kata Menteri Perhubungan Amerika Serikat, Sean Duffy.
