“Aceh Utara dan Aceh Tamiang paling banyak,” katanya.
Ia merincikan dari 63 madrasah yang belum siap melaksanakan PBM, 19 di antaranya berada di Aceh Utara, 17 di Aceh Tamiang dan 14 di Aceh Tengah. Sisanya, 7 madrasah di Pidie Jaya, 4 di Bireuen dan 2 madrasah di Bener Meriah.
Menurut Khairul, kendala utama yang dihadapi meliputi belum rampungnya pembersihan ruang kelas dan halaman sekolah yang masih dipenuhi lumpur, ruang kelas yang tertimbun material banjir, hingga akses jalan menuju madrasah yang belum dapat dilalui. Di beberapa wilayah, madrasah juga masih digunakan sebagai lokasi pengungsian, serta terdapat kawasan yang berstatus siaga bencana, seperti di Bener Meriah.
Khairul juga menjelaskan, 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut karena banjir juga sudah siap melaksanakan PBM meski harus direlokasi ke tempat sementara, seperti masjid/meunasah, lapangan desa atau lapangan milik madrasah yang masih ada.
Ia menyatakan, Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta relawan untuk mempercepat proses pemulihan sarana dan prasarana madrasah. Upaya ini dilakukan agar seluruh peserta didik dapat segera kembali mengikuti pembelajaran secara aman dan nyaman.

