IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi depolimerisasi plastik polietilena tereftalat (PET) yang tidak hanya berkontribusi pada ekonomi sirkular, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan senyawa turunannya sebagai kandidat bahan pendukung terapi kanker.
Peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Betty Alfirizky Kustiana, mengatakan PET merupakan polimer yang sangat luas penggunaannya, mulai dari kemasan, tekstil, papan sirkuit elektronik, hingga film pencitraan sinar-X. Tingginya konsumsi PET berbanding lurus dengan akumulasi limbah plastik yang sulit terdegradasi secara alami dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, salah satu pendekatan yang berkembang pesat adalah daur ulang kimia melalui proses depolimerisasi, yaitu pemutusan rantai polimer menjadi monomer secara kimia,” kata Betty, dalam Webinar Bincang Riset I, bertema “Peran Bioinformatik, Sintesis Organik, dan Teknologi Formulasi dalam Mendukung Riset Pengembangan Bahan Baku Obat Nasional”, mengutip Jumat (23/1/2026).
Proses ini memungkinkan PET diolah kembali menjadi senyawa bernilai tinggi yang tidak hanya dapat dipolimerisasi ulang, tetapi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang lebih spesifik.
Dalam riset yang dikembangkannya, Betty menekankan pemanfaatan struktur tereftalat hasil depolimerisasi PET sebagai kerangka dasar pengembangan senyawa antikanker. Struktur tersebut telah banyak digunakan dalam berbagai obat komersial dan kandidat obat yang masih berada pada tahap uji klinis maupun pra-klinis, seperti tucidinostat untuk limfoma sel T, entinostat untuk kanker payudara, serta diprovocim yang dikaji untuk leukemia.
Hingga saat ini, tim peneliti BRIN telah berhasil mensintesis tiga senyawa utama, yaitu 1′-terephthaloylbisimidazole (TBI), asam tereftalat (TA), dan dimetil tereftalat (DMT) dengan rendemen lebih dari 80 persen pada skala laboratorium, meskipun optimasi metode masih terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi proses.
Ke depan, riset ini akan dilanjutkan ke tahap scale-up dengan kapasitas bahan baku PET yang lebih besar guna menguji konsistensi proses dan potensi penerapannya secara lebih luas. Pendekatan ini sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular dengan mempertahankan nilai material dalam siklus pemanfaatan yang lebih panjang dan bernilai tambah tinggi. (ahmad)
