
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa proses produksi menjadi bagian penting dari karakter Kriti by Lusy. Lusy ingin setiap karya yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Karena itu, ia pun melibatkan penjahit lokal di sekitar tempat tinggalnya serta bekerja langsung dengan para pengrajin tenun untuk memastikan setiap detail bahan tetap terjaga. Bahkan, Lusy membatasi jumlah produksi agar setiap desain memiliki nilai eksklusif. Dengan pola kerja tersebut, kapasitas produksinya saat ini berada di kisaran 100–200 potong per bulan.
“Selain konsisten menjaga kualitas produk, menurut saya, perjalanan Kriti by Lusy juga semakin berkembang berkat bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada tahun 2018. Melalui ekosistem pemberdayaan tersebut, saya bisa memperoleh akses pelatihan, dan fasilitas pemasaran dari program Growpreneur by BRI secara mudah, hal ini sangat membantu saya dalam menata strategi bisnis,” terangnya.

