Data tim geologi ESDM Aceh menunjukkan tren perluasan yang konsisten dari tahun ke tahun. Pada Juni 2011, luas longsoran tercatat sekitar 7.982 meter persegi. Angka itu meningkat signifikan menjadi 12.193 meter persegi pada Desember 2015. Pengukuran ulang pada Maret 2019 mencatat luasan mencapai 19.498 meter persegi.
Pergerakan tanah tak berhenti. Pada September 2021, area longsoran meluas menjadi 20.199 meter persegi dan kembali bertambah menjadi 23.213 meter persegi pada Desember tahun yang sama. Juni 2022, luasan tercatat 24.351 meter persegi. Terakhir, pengukuran pada 12 Februari 2025 menunjukkan area amblasan telah mencapai sekitar 27.918 meter persegi, sebagaimana dikutip dari unggahan akun TikTok @dirumahajabisa.
Hingga kini, penyebab pasti fenomena tanah amblas yang berlangsung puluhan tahun tersebut masih belum dapat dipastikan. Namun, para ahli menilai kombinasi faktor geologi, struktur tanah, dan curah hujan tinggi berpotensi mempercepat pergerakan tanah di kawasan tersebut.
Jika jalur Blang Mancung–Simpang Balik kembali terputus, dampaknya diperkirakan akan meluas. Sejumlah desa berisiko terisolasi, sementara aktivitas ekonomi, terutama sektor pertanian, akan terganggu.

