“Dalam praktiknya, sampah yang masuk masih bercampur antara organik dan anorganik, bahkan pada tahap awal operasional sempat memanfaatkan sampah lama dari bunker. Kondisi tersebut membuat mesin harus bekerja ganda memilah sekaligus mengolah,” sesalnya.
Dalam situasi seperti itu, potensi timbulnya bau menjadi sulit dihindari. Hal ini pula yang, menurutnya, menjelaskan mengapa saat kapasitas dinaikkan dari 750 ton menjadi 1.000 ton per hari, keluhan bau kembali mencuat, padahal kapasitas desain penuhnya mencapai 2.500 ton per hari.
“Disini terlihat ada kesenjangan antara kesiapan infrastruktur hilir dan sistem pemilahan di hulu. Kita membangun fasilitas modern, tetapi sistem pemilahan sampah dari sumber belum berjalan optimal,” jelasnya.
Dengan produksi sampah Jakarta yang mencapai lebih dari 7.500 ton per hari, RDF Rorotan sejatinya baru mampu menampung sekitar sepertiganya, itu pun dalam kondisi sampah yang belum sepenuhnya terpilah.
“Tanpa pembenahan di sisi hulu, Persoalan yang sama berpotensi terus berulang, sekalipun fasilitas telah beroperasi penuh,” katanya.(Sofian)

