Bau Nyale merupakan tradisi masyarakat pesisir Selatan Lombok. “Bau” dalam bahasa Sasak artinya “menangkap”, sementara “Nyale” adalah nama cacing warna warni yang keluar secara musiman di pesisir pantai Lombok. Masyarakat mempercayai bahwa Nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang melarungkan dirinya ke laut.
“Nyale sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala, kemudian Putri Mandalika memberikan petunjuk kepada pangeran-pangeran yang ingin menikahinya, bahwa ada berkah yang lebih besar daripada memperebutkan dirinya. Akhirnya dia meminta pangeran-pangeran itu untuk datang ke Pantai Seger pada tanggal 20 bulan 10 di penanggalan Sasak dan dia pergi menghilang. Itulah khazanah ilmu pengetahuan yang ditinggalkan Mandalika,” tutur Lalu Agus Fathurrahman, Budayawan Sasak. (ahmad)
