Namun, Mario mempertanyakan visi perdamaian yang ingin dicapai oleh BOP. Ia menilai terdapat indikasi bahwa arah BOP tidak sepenuhnya sejalan dengan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendorong two-state solution. Komposisi keanggotaan dan dominasi Amerika Serikat dalam arsitektur BOP menunjukkan adanya perbedaan pandangan mendasar dibandingkan solusi dua negara yang selama ini didukung PBB dan Indonesia.
Lebih lanjut, Mario menilai BOP mencerminkan pendekatan tata kelola global yang semakin transaksional. Perdamaian tidak lagi dimaknai sebagai upaya penegakan norma kemanusiaan dan keadilan, tetapi juga sebagai instrumen kepentingan strategis dan ekonomi.
Dari sisi desain kelembagaan, ia menyoroti adanya personalisasi dan sentralisasi kekuasaan, terutama pada figur Donald Trump yang disebut secara eksplisit dalam piagamnya. Selain itu, tidak terdapat kejelasan mekanisme koordinasi maupun akuntabilitas terhadap Dewan Keamanan PBB sehingga menunjukkan adanya jarak dengan sistem multilateralisme formal.

