“Jika ditemukan kondisi tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan, dokter dari tim kami akan memberikan arahan dan solusi lebih lanjut. Karena, perlu dipahami bahwa penghapusan tato tidak dapat hilang seketika hanya dengan satu kali tindakan laser, sensitivitas kulit sangat beperngaruh besar,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu peserta hapus tato, Budiandry, 53, mengaku memilih menghapus tato, karena saat ini tato tersebut sudah tidak berguna lagi. Selain itu, momen ini bertepatan dengan bulan Ramadan, jadi bisa menjadi salah satu cara untuk membersihkan hati sekaligus membersihkan diri, terutama badan.
“Awalnya buat tato itu tahun 1993. Saya ingin memberikan kesan agar terlihat keren. Namun, pada dasarnya dahulu saya juga hanya ikut-ikutan teman saja,” ungkap Budiandry.
Dia pun mengucapkan terima kasih kepada Baznas (Bazis) Jakarta Selatan atas program penghapusan tato gratis ini. Sehingga, ke depannya diharapkan hapus tato ini bisa terselenggara secara rutin.
“Saya mengajak bagi teman-teman yang berminat untuk menghapus tato, terlebih lagi ini gratia, segeralah bergabung jika ada kegiatan seperti ini di waktu yang akan datang,” tutup Budiandry. (Joesvicar Iqbal)

