Menurut Sofyan, tahun pertama seharusnya menjadi fondasi arah lima tahun ke depan. Empat tahun tersisa memang memberi ruang perbaikan, namun waktu panjang tidak otomatis melahirkan perubahan jika pola awal tidak menunjukkan keberanian merombak sistem.
Ia menekankan bahwa kritik bukan bentuk permusuhan, melainkan mekanisme penyeimbang dalam demokrasi. Oposisi, katanya, bukan ancaman bagi pemerintahan, melainkan pengingat agar kekuasaan tidak terjebak dalam zona nyaman administratif.
“Sejarah tidak mencatat seberapa sering visi diulang. Sejarah mencatat seberapa nyata perubahan diwujudkan,” ujarnya.
Satu tahun telah berlalu. Arah mulai terbaca. Kini publik Lhokseumawe menanti: apakah kepemimpinan Sayuti–Husaini akan naik kelas menjadi transformasi yang sesungguhnya, atau tetap berada dalam orbit pengelolaan administratif?
Waktu akan terus berjalan. Dan waktu, pada akhirnya, tidak pernah berpihak pada stagnasi. (tim)

