“Video yang beredar hanya menampilkan sebagian pembagian, sehingga menimbulkan persepsi keliru seolah-olah kelapa menjadi satu-satunya menu,” jelasnya.
Pihak SPPG mengaku telah menghapus unggahan yang memicu polemik dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Mereka berjanji melakukan evaluasi sistem perencanaan menu serta lebih berhati-hati dalam penyampaian informasi.
Sementara itu, Polres Bontang mengimbau masyarakat, khususnya di Kalimantan Timur, agar tidak mudah terpengaruh potongan video tanpa konteks lengkap.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam bermedia sosial dan tidak langsung menyimpulkan sesuatu dari potongan informasi,” tegas AKP Dany.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa di era digital, potongan visual yang tidak utuh dapat dengan cepat membentuk opini publik bahkan sebelum fakta lengkap terungkap.(Vinolla)
