Warga setempat pun turun tangan membantu mengarahkan kendaraan satu per satu agar bisa keluar dari jalur sempit dan kembali ke jalan utama. Proses evakuasi berlangsung cukup lama karena kondisi jalan yang terbatas.
Di media sosial, kejadian ini memicu beragam reaksi. Sebagian warganet menanggapinya dengan humor, sementara lainnya mengaku pernah mengalami hal serupa saat mengandalkan navigasi digital.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bahwa teknologi tidak selalu memahami kondisi lapangan secara utuh. Dalam situasi tertentu, terutama di wilayah pedesaan, jalur yang direkomendasikan belum tentu layak dilalui banyak kendaraan.
Pihak Jasa Marga pun mengingatkan pengendara untuk tetap mengutamakan rambu lalu lintas resmi dan tidak sepenuhnya bergantung pada aplikasi navigasi, khususnya selama periode padat seperti arus mudik dan balik Lebaran.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pelajaran bagi para pemudik: efisiensi waktu tidak selalu sejalan dengan keamanan perjalanan, terutama jika harus melewati jalur yang belum tentu sesuai kondisi kendaraan dan lingkungan.(Vinolla)
