“Kami merasa sangat bangga karena tahun ini kota Semarang mendominasi dengan enam karya yang diakui sekaligus. Mulai dari kudapan seperti Wingko Babat dan Ganjel Rel hingga seni Barongsai dan Kaligrafi China, semuanya membuktikan bahwa ekosistem kebudayaan kita sangat inklusif. Penghargaan ini menjadi pemacu semangat kami untuk terus menggali potensi budaya lain yang masih tersembunyi,” tambahnya.
Proses kurasi dan pengajuan karya-karya ini telah melalui tahapan riset dan verifikasi yang panjang agar layak mendapatkan pengakuan di level nasional. Ia menekankan bahwa pencapaian ini adalah buah dari konsistensi seluruh elemen masyarakat dalam merawat akar budaya di tengah modernitas.
Agustina berharap, penetapan WBTB ini mampu berdampak langsung pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, di mana warisan budaya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
“Dengan status WBTB ini, kuliner seperti Bubur Khoja dan Lam Kowan kini memiliki posisi tawar yang lebih tinggi sebagai daya tarik wisata kuliner. Kami ingin masyarakat dunia melihat Semarang sebagai kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga sangat kaya akan keragaman etnis dan tradisi yang terpelihara dengan sangat baik,” pungkasnya. (sol)
