IPOL.ID-Liverpool menghadapi ujian berat saat menjamu Paris Saint-Germain dalam leg kedua perempat final Liga Champions UEFA. Tertinggal agregat 0-2, The Reds butuh penampilan nyaris sempurna untuk membalikkan keadaan di Anfield.
Tim asuhan Arne Slot punya satu senjata utama: atmosfer Anfield yang kerap menghadirkan keajaiban. Kenangan comeback epik, termasuk saat menyingkirkan FC Barcelona pada 2019, menjadi bahan bakar motivasi.
Pada leg pertama di Paris, pendekatan taktik konservatif dengan formasi 3-5-2 justru membuat Liverpool FC kesulitan berkembang. Minimnya peluang tercermin dari rendahnya expected goals yang dihasilkan.
Sebaliknya, PSG tampil lebih efektif. Ketajaman Desire Doue dan Khvicha Kvaratskhelia menjadi pembeda, bahkan kemenangan 2-0 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan dominasi mereka di laga tersebut.
Meski demikian, Liverpool datang dengan modal positif usai menang 2-0 atas Fulham di liga domestik. Dalam lima laga kandang terakhir, mereka mencatat empat kemenangan dengan produktivitas gol yang meyakinkan.
