Di tengah persaingan yang kian ketat dengan berbagai bentuk hiburan dan dunia digital, bulutangkis dinilai menghadapi titik krusial dan relevansi menjadi kata kunci. Bulutangkis harus tetap relevan atau akan tertinggal.
Tiga agenda utama disorot. Pertama, menjaga relevansi dengan menghadirkan olahraga yang lebih dekat dan menarik bagi generasi muda. Kedua, memastikan inklusivitas, agar bulutangkis tidak eksklusif bagi elit, melainkan hidup di tengah masyarakat. Ketiga, memperkuat fondasi masa depan melalui tata kelola yang transparan, profesional, dan inovatif, termasuk pemanfaatan sport science dan engagement digital.
Upaya transformasi tersebut, lanjut Fadil, tengah dijalankan, mulai dari pembinaan, manajemen organisasi, hingga pendekatan ke komunitas.
Sebagai negara dengan tradisi kuat di cabang bulutangkis, Indonesia menempatkan bulutangkis sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan bangsa. Namun, masa depan olahraga ini ditegaskan tidak dapat dibangun sendiri.
“Masa depan bulutangkis ditentukan oleh kolaborasi dengan berbagi pengetahuan, membangun kepercayaan, dan melangkah bersama,” tegas Fadil.

